Permainan di Balik Topeng Master

 Episode 1: Tamu Tak Diundang di Sanctum Bara


Gue narik napas panjang sebelum muter kunci pintu apartemen mewah di kawasan SCBD ini. Unit ini bukan punya gue. Ini punya Master Bara—satu-satunya orang yang bikin bulu kuduk gue merinding sekaligus bikin adrenalin gue meledak cuma dengan satu tatapan.

Di belakang gue, Darren jalan pelan. Langkah kakinya kedengeran ragu. Dosen muda yang biasanya sok tahu di depan kelas itu sekarang cuma bisa nunduk, tangannya gemetar tipis nenteng tas berisi perlengkapan yang udah gue suruh bawa. Dia pikir malam ini adalah sesi privat antara gue, Masternya, dan dia, budak kesayangan gue.

"Masuk, Darren. Jangan bikin gue nunggu," suara gue datar, tapi dingin.

Darren masuk ke dalem ruangan yang minim cahaya. Wangi aromaterapi kayu cendana campur bau kulit (leather) langsung nyergap indra penciuman. Ruangannya luas, tapi kerasa mencekam karena hampir semua furniturnya berwarna gelap.

"M-master Dio... ini tempat siapa?" bisik Darren. Suaranya pecah. Gue bisa ngerasain ketakutan dia, dan jujur, itu bikin gue makin berkuasa.

"Tempat di mana lo bakal belajar arti kepatuhan yang sesungguhnya. Duduk di kursi itu. Sekarang." Gue nunjuk kursi kayu jati berat yang ada di tengah ruangan.

Darren nurut. Dia duduk dengan posisi tegak, punggungnya kaku. Gue bisa liat jakunnya naik turun, dia nahan ludah. Gue mulai muterin dia, pelan, kayak predator yang lagi nikmatin mangsanya sebelum disantap.

"Malam ini spesial, Darren. Gue bawa lo ke sini karena gue ngerasa lo butuh tantangan baru. Lo udah terlalu nyaman sama cara gue. Gue mau liat, sejauh mana lo bisa bertahan kalau ada 'variabel' lain di sini," kata gue sambil ngelus rahangnya yang tegas.

Tiba-tiba, suara langkah sepatu boots berat kedengeran dari arah balkon. Suaranya mantul di lantai marmer, tuk... tuk... tuk... Setiap langkahnya kayak detak jantung yang makin cepet.

Darren langsung nengok, matanya ngelebar pas liat sosok cowok tinggi besar, pake kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku, muncul dari balik tirai. Itu Bara. Auranya jauh lebih gelap dari gue. Dia megang sebatang rokok yang asapnya ngepul tipis, matanya tajam banget kayak mau nembus jiwa siapa pun yang dia liat.

"Jadi ini mainan baru lo, Dio?" suara Bara berat, ngebass, dan penuh otoritas.

Gue seketika kaku. Jantung gue mau copot, tapi gue berusaha tetep terlihat tenang di depan Darren. "Iya, Master Bara. Ini Darren. Budak yang gue ceritain."

Darren ngerasa ada yang aneh. Dia ngeliat gue, terus ngeliat Bara. "Master... Dio? Siapa dia?" tanya Darren bingung. Dia belum pernah liat gue manggil orang lain dengan sebutan 'Master'.

Bara jalan mendekat, dia berdiri tepat di depan Darren, bikin Darren keliatan kecil banget di atas kursi itu. Bara nggak jawab pertanyaan Darren. Dia justru natap gue dengan tatapan yang bikin lutut gue lemes.

"Gue nggak suka tamu yang terlalu banyak tanya di rumah gue, Dio. Lo tau apa yang harus dilakuin buat bikin dia diem, kan?" perintah Bara.

Gue nunduk dalem. "Ngerti, Master Bara."

Gue ngambil gulungan duct tape hitam dari meja. Darren panik, dia mau berdiri tapi Bara naruh satu tangannya di pundak Darren—cuma satu tangan, tapi tekanannya bikin Darren nggak bisa gerak sama sekali.

"Diem atau gue bikin lo lebih sakit dari ini, Darren," ancam gue sambil narik lakban itu. Suara SREEET yang nyaring menembus keheningan ruangan.

Gue tutup mulut Darren rapat-rapat. Dia nyoba berontak, tapi tenaga Bara terlalu kuat nahan dia di kursi. Darren cuma bisa ngerang frustrasi di balik lakban, matanya natap gue penuh ketidakpercayaan.

Dia nggak tau kalau di ruangan ini, gue bukan lagi raja. Dia nggak tau kalau malam ini, nasib kita berdua ada di tangan Bara.


Episode 2: Ritual Keheningan: Tali dan Lakban


Suasana di dalam unit apartemen Master Bara mendadak jadi makin berat. Bau karet dari lakban yang baru aja gue tempelin ke mulut Darren kecium nyengat. Darren nyoba buat protes, tapi cuma suara erangan “Mmph! Mmmph!” yang keluar. Matanya yang biasanya tajam pas lagi ngasih kuliah, sekarang cuma bisa melotot penuh ketakutan ke arah gue.

"Bagus, Dio. Biar dia belajar dengerin suara napasnya sendiri," suara Bara terdengar santai dari belakang gue. Gue bisa denger suara korek api Zippo yang dinyalain. Klik. Bara lagi nyantai ngerokok, nontonin pertunjukan yang gue suguhin.

Gue ngambil gulungan tali polypropylene hitam dari tas. Tali ini kasar, tapi kuat banget. Gue mulai nunduk, narik kedua tangan Darren ke belakang sandaran kursi kayu itu. Gue bisa ngerasa badan Darren gemetar hebat pas kulitnya bersentuhan sama dinginnya tali.

"Jangan ngelawan, Darren. Makin lo gerak, makin perih kulit lo," bisik gue tepat di lubang kupingnya. Gue sengaja niup napas gue di situ, bikin dia makin merinding.

Gue lilit tangannya berkali-kali. Gue pake teknik suspension bond sederhana tapi efektif buat ngunci pergerakan bahu. Setiap tarikan tali, gue pastiin kencang banget sampai sandaran kursi itu bunyi berderit. Darren ngerang lagi, badannya melengkung nyoba nyari ruang buat napas, tapi sia-sia.

Bara jalan mendekat. Sepatu boots-nya berhenti tepat di samping kepala Darren. Dia ngebuka kepulan asap rokoknya pelan ke arah muka Darren yang udah merah padam. "Dio, kaki dia masih bebas. Lo mau dia nendang perabotan gue?"

"Maaf, Master Bara. Langsung gue lakuin," jawab gue refleks. Panggilan 'Master' yang keluar dari mulut gue buat Bara bikin Darren makin kaget. Dia nengok ke gue, nyoba minta penjelasan lewat matanya yang berkaca-kaca. Tapi gue buang muka.

Gue berlutut di bawah kaki Darren. Gue lilit pergelangan kakinya ke masing-masing kaki kursi. Sekarang posisinya bener-bener terbuka, nggak berdaya. Dosen muda yang paling disegani satu kampus ini sekarang cuma seonggok daging yang terikat mati di kursi milik orang asing.

"Pinter," puji Bara singkat. Pujian itu anehnya bikin jantung gue deg-degan. Bukan karena bangga, tapi karena gue tau setelah ini giliran gue yang bakal diuji.

Gue ngambil kain penutup mata (blindfold) velvet hitam dari saku. Ini sentuhan terakhir buat fase pertama. "Tutup mata lo, Darren. Lo nggak berhak liat apa yang bakal terjadi setelah ini."

Gue ikatin kain itu kencang-kencang di kepalanya. Begitu simpulnya mati, Darren langsung kehilangan satu-satunya akses dia ke dunia luar. Dia cuma bisa denger suara napas gue, suara langkah Bara, dan bau rokok yang makin pekat.

"Sekarang dia udah 'buta', Dio," kata Bara pelan, suaranya makin mendekat ke arah gue. "Dan sekarang... tiba saatnya buat lo ngelepas atribut Master palsu lo itu."

Gue ngerasa tangan Bara megang tengkuk gue. Kuat banget. Gue dipaksa buat natap Darren yang udah nggak bisa liat apa-apa.

"Berlutut, Dio. Di samping kursi mainan lo. Sekarang."

Gue nelan ludah. Rahasia gue hampir kebongkar. Darren yang duduk terikat di depan gue nggak tahu kalau detik ini, 'Tuhannya' baru aja diperintah buat sujud di lantai marmer yang dingin.


Episode 3: Titik Nol: Masuknya Master Bara


Gue bisa ngerasain dinginnya lantai marmer apartemen Master Bara nembus kulit lutut gue. Posisi gue sekarang bener-bener di bawah Darren. Dosen gue itu masih duduk kaku di kursi, nafasnya buru-buru, pendek-pendek—ciri khas orang yang lagi serangan panik karena matanya ditutup total dan mulutnya dibungkap rapat.

"Bagus, Dio. Tetap di situ. Jangan gerak kalau gue nggak suruh," suara Bara terdengar sangat dominan, berwibawa, dan dingin.

Gue cuma bisa nunduk. Gue denger suara langkah kaki Bara muterin kursi Darren. Suara gesekan kulit sepatunya kedengeran jelas banget di ruangan yang sunyi ini. Darren ngerespons setiap suara itu dengan gerakan bahu yang tegang. Dia nggak tahu siapa yang lagi jalan di sekitarnya. Dia cuma tau ada 'orang asing' yang suaranya bikin Masternya sendiri—gue—langsung patuh.

Bara berhenti tepat di depan Darren. Gue liat dari sudut mata gue, Bara nyentuh dagu Darren, maksa kepalanya dongak ke atas. Darren ngerang kaget, “Mmphh?!” Badannya nyoba berontak, tapi ikatan tali yang gue buat tadi terlalu solid.

"Tenang, Darren. Lo denger suara gue, kan?" Bara nanya dengan nada yang hampir kayak nge-tease. "Gue adalah alasan kenapa 'Master' kesayangan lo ini bawa lo ke sini. Gue adalah otoritas tertinggi di ruangan ini. Dan malam ini... lo bukan cuma punya Dio. Lo punya gue."

Gue bisa liat Darren gemetar hebat. Bayangin aja, lo diikat, lo nggak bisa liat, lo nggak bisa ngomong, dan tiba-tiba ada suara cowok asing yang mengklaim diri sebagai pemilik baru lo. Terlebih lagi, lo denger 'Master' lo sendiri diem seribu bahasa, nggak ngebela lo sama sekali.

"Dio," panggil Bara tiba-tiba.

"Iya, Master Bara?" suara gue agak bergetar. Gue bener-bener ngerasa kecil di posisi ini.

"Bilang ke Darren. Siapa gue buat lo. Biar dia nggak bingung kenapa lo jadi pengecut yang cuma bisa berlutut di lantai sekarang."

Gue narik napas berat. Ini momen yang paling gue takuti. Identitas gue sebagai top di depan Darren harus hancur berkeping-keping. "Darren... dengerin gue. Master Bara... dia adalah Master gue. Segala perintah dia adalah hukum buat gue. Dan malam ini... kita berdua adalah miliknya."

Gue bisa denger suara Darren makin kacau di balik lakbarnya. “Mmmph! Mmmph! MMM-MPH!” Dia kayak mau teriak, mungkin mau nanya gimana bisa seorang Dio yang biasanya ngontrol dia di apartemen sekarang jadi budak orang lain.

Bara ketawa kecil. Suara ketawanya sinis banget. Dia ngelepasin dagu Darren terus beralih ke gue. Dia naruh satu kakinya di atas paha gue yang lagi berlutut, nekan pelan sebagai peringatan.

"Denger itu, Darren? Master lo cuma anjing kecil di depan gue. Jadi, kalau dia aja tunduk, lo nggak punya pilihan lain selain hancur bareng dia malam ini."

Bara ngambil HP dari saku celananya. Gue tau apa yang bakal terjadi. Ini masuk ke tahap yang lebih serius.

"Sekarang, sebelum kita main lebih jauh... gue mau liat seberapa loyal kalian berdua secara materi. Dio, ambil HP Darren. Kita mulai sesi Findom pertama."


Episode 4: Findom: Pajak Kepatuhan


Suasana di ruangan itu makin gila. Darren masih terengah-engah di atas kursi, berusaha mencerna kenyataan kalau "Master"-nya baru saja mengaku sebagai budak di depan orang lain. Gue bisa ngerasain keringat dingin ngalir di punggung gue saat Bara nekan bahu gue pakai kakinya.

"Ambil HP-nya, Dio. Buka kuncinya pakai muka dia," perintah Bara. Suaranya nggak menerima bantahan.

Gue merangkak pelan ke arah Darren. Dia nyoba ngejauh pas ngerasa ada gerakan di dekatnya, badannya goyang ke kiri dan kanan sampai kursi kayunya berdecit keras. “Mmph! Mmmph!” erangan itu kedengeran penuh penolakan.

"Diem, Darren! Ini buat kebaikan lo!" bentak gue, meskipun suara gue sendiri agak bergetar. Gue pegang rahangnya kuat-kuat, gue arahin mukanya ke layar HP. Klik. Kunci terbuka.

Bara ngambil HP itu dari tangan gue. Dia mulai scrolling dengan santai, seolah lagi baca koran pagi. "Dosen muda ternyata gajinya lumayan juga ya? Tabungan lo cukup buat jaminan kepatuhan malam ini."

Gue liat Bara ngetik sesuatu di HP itu. Gue tau itu aplikasi mobile banking. "Dio, sebutin nomor rekening operasional gue. Lo hafal kan?"

"Hafal, Master Bara... 0822..." Gue nyebutin deretan angka itu dengan suara pelan.

Ting. Bunyi notifikasi transaksi berhasil kedengeran nyaring di ruangan yang sunyi itu.

"Lima juta buat pembukaan. Anggap aja ini biaya 'kuliah' tambahan buat lo, Darren," Bara ketawa sinis. Dia lempar HP Darren ke lantai marmer sampai suaranya berdenting. "Uang itu nggak ada artinya dibanding rasa malu yang bakal lo rasain malam ini. Lo tau nggak? Di sini, harta lo nggak bisa nyelametin lo dari gue."

Darren makin histeris. Badannya gemetar hebat. Bayangin aja, dia nggak bisa liat, nggak bisa protes, dan sekarang dia denger duit hasil kerja kerasnya dipindahin gitu aja ke orang asing atas bantuan orang yang dia percaya.

"Dan lo, Dio..." Bara beralih ke gue. Dia narik kerah kemeja gue sampai gue terpaksa dongak natap dia. "Jangan pikir lo aman. Transfer jatah bulanan lo ke akun yang sama. Sekarang."

Gue langsung ngeluarin HP gue sendiri. Tanpa babibu, gue kirim nominal yang sama. Di depan Darren yang buta, gue ngerasa harga diri gue sebagai Master bener-bener dikuliti sampai habis.

"Pinter. Sekarang kalian berdua resmi jadi aset gue," kata Bara sambil matiin rokoknya di asbak kaca. Dia jalan mendekat ke Darren, terus beralih ke gue lagi.

"Dio, buka baju lo. Sisain celana dalam aja. Gue mau lo dalam posisi yang seharusnya."

Gue nelan ludah. Gue mulai ngelepas kemeja gue satu-satu. Gue bisa ngerasa Darren denger suara gesekan kain kemeja gue yang jatuh ke lantai. Dia pasti bingung, dia pasti ketakutan setengah mati mikirin apa yang lagi terjadi sama gue.

"Sekarang... merangkak di bawah kaki Darren. Jadilah anjing yang baik," perintah Bara sambil ngeluarin sebuah collar kulit hitam dari sakunya.


Episode 5: Posisi Anjing: Rahasia Tergelap Dio


Gue ngerasa dinginnya ubin apartemen Master Bara makin menusuk kulit dada gue yang sekarang udah polos tanpa kemeja. Di depan gue, kaki Darren yang terikat ke kursi kelihatan tegang banget. Dia pasti denger suara kancing kemeja gue yang lepas, denger suara kain jatuh ke lantai, dan sekarang dia pasti bisa ngerasain keberadaan gue yang ada di bawah dia.

"Jangan cuma diem, Dio. Lo tau posisi lo," suara Bara dingin banget.

Gue narik napas berat, terus gue mulai nekuk lutut dan nurunin tangan gue ke lantai. Gue ngerangkak pelan sampai kepala gue sejajar sama lutut Darren. Gue bisa denger deru napas Darren makin kencang. Dia pasti bingung setengah mati kenapa 'Master'-nya sekarang ada di posisi serendah itu.

KLIK.

Bunyi besi ketemu besi itu gema di ruangan yang sunyi. Master Bara baru aja masangin leather collar hitam ke leher gue. Dia narik talinya, maksa kepala gue buat dongak natap dia dari bawah. Sakit, tapi adrenalin yang muncul bener-bener gila.

"Liat ini, Darren," Bara ngomong sambil nendang kecil kaki kursi Darren biar dia fokus. "Master kesayangan lo ini... sekarang resmi jadi anjing gue. Lo denger suara rantainya, kan?"

Bara sengaja ngeguncang rantai yang tersambung ke leher gue. Suara gemerincing logam itu pasti terdengar kayak lonceng kematian buat harga diri gue di telinga Darren. Darren ngerang hebat, “MMMPH! MMM-MPH!” Badannya ngegenjot kursi, nyoba ngelepasin ikatan tali di tangannya. Dia kayak nggak terima kalau gue, orang yang biasanya nyuruh dia berlutut, sekarang justru sujud di bawah kaki orang lain.

"Diem, anjing!" Bara ngebentak Darren, terus dia beralih ke gue lagi. "Dio, gue mau lo tunjukin kepatuhan lo. Bukan ke gue, tapi ke 'mainan' lo ini. Biar dia tau kalau di sini, lo cuma alat yang gue gerakin."

Bara narik rantai gue, maksa gue buat makin nempel ke arah selangkangan Darren yang masih pake celana kain rapi. Gue bisa ngerasa panas dari tubuh Darren. Gue tau dia lagi tegang—antara takut, marah, dan mungkin... terangsang karena situasi yang makin kacau ini.

"Gue mau lo layanin dia, Dio. Tapi inget, lo lakuin itu bukan karena lo sayang sama dia. Lo lakuin itu karena gue yang suruh. Ngerti?"

"Ngerti, Master Bara..." suara gue parau.

Tangan Bara sekarang megang kepala gue, neken muka gue ke arah paha Darren. Darren langsung kaku. Dia nggak bisa liat siapa yang nyentuh dia, tapi dia pasti tau itu gue dari bau parfum yang biasa gue pake.

"Bagus. Sekarang, sebelum gue tutup mata lo juga... gue mau lo ngerasain gimana rasanya jadi budak yang nggak punya hak atas dirinya sendiri."

Bara ngambil kain hitam satu lagi dari sakunya. Dia mulai melilitkannya ke mata gue. Perlahan, dunia gue jadi gelap total, persis kayak apa yang dirasain Darren sekarang. Bedanya, Darren duduk di kursi dengan tangan terikat, sementara gue merangkak di lantai dengan leher dirantai.

"Sekarang... permainannya baru bener-bener dimulai," bisik Bara di antara kita berdua.


Episode 6: Kegelapan Ganda


Dunia gue mendadak sirna. Begitu kain velvet hitam itu diikat kencang sama Master Bara di belakang kepala gue, semua visual tentang apartemen mewah ini hilang. Gue sekarang sama butanya kayak Darren. Gue cuma bisa ngerasain dinginnya lantai di lutut gue, sesaknya collar di leher gue, dan aroma tubuh Darren yang makin intens karena jarak gue yang cuma beberapa sentimeter dari paha dia.

"Gimana rasanya, Dio? Gelap?" suara Bara terdengar bergaung, seolah-olah dia lagi muterin kita berdua. "Sekarang lo sama Darren ada di level yang sama. Dua-duanya buta. Dua-duanya nggak punya kuasa. Cuma gue yang bisa liat betapa hancurnya harga diri kalian malam ini."

Gue denger suara kursi kayu Darren berderit lagi. “Mmmph! Mmmph!” Darren nyoba gerakin kakinya, mungkin nyari keberadaan gue. Pas ujung sepatunya nyentuh bahu gue yang polos tanpa baju, dia langsung kaku. Dia pasti ngerasa aneh—Masternya yang biasanya berdiri gagah, sekarang merangkak di bawah kakinya kayak anjing.

"Dio," panggil Bara. Suaranya tepat di atas kepala gue. "Gue mau lo pake tangan lo. Rasain setiap inci dari 'properti' gue yang satu ini. Mulai dari bawah."

Tangan gue gemetar pas gue angkat dari lantai. Dalam kegelapan total ini, indra peraba gue jadi sepuluh kali lipat lebih sensitif. Gue mulai ngeraba pergelangan kaki Darren yang terikat tali polypropylene. Kasar. Gue ngerasain urat-urat di kakinya yang menonjol karena dia lagi tegang banget.

Gue gerakin tangan gue naik ke arah betisnya, terus ke lututnya yang dibalut celana kain mahal. Setiap sentuhan gue bikin Darren ngerang makin keras di balik lakbarnya. Itu bukan erangan nikmat, itu erangan bingung dan penuh tekanan mental. Dia nggak bisa liat gue, tapi dia tau tangan siapa yang lagi megang dia.

"Terus naik, Dio. Jangan berhenti," perintah Bara. Gue denger suara gesekan logam—Bara pasti lagi mainin rantai di leher gue, narik-ulur biar gue nggak lupa siapa yang pegang kendali.

Tangan gue sampai di paha Darren. Gue bisa ngerasain otot pahanya yang keras banget, berkedut setiap kali jari gue nekan kain celananya. Dan di situ, gue ngerasa sesuatu yang bikin gue makin gila: Darren ereksi. Di tengah ketakutan dan kebingungannya, badannya nggak bisa bohong kalau situasi power play yang kacau ini bikin dia terangsang secara biologis.

"Oh, liat itu," Bara ketawa rendah, seolah dia bisa liat semuanya dengan jelas. "Dosen kita kayaknya suka dikhianatin sama Masternya sendiri. Dia tegang, Dio. Dia butuh 'bantuan' lo."

Bara narik rantai leher gue sampai kepala gue hampir kejungkal ke belakang. "Buka ritsleting celananya. Pake mulut lo. Gue nggak mau liat tangan lo nyentuh itu dulu."

Gue nelan ludah. Jantung gue berdegup kencang banget sampai gue rasa Darren bisa denger detaknya. Gue harus ngelakuin ini dalam keadaan mata tertutup, merangkak, dan di bawah pengawasan Master Bara yang bisa ngelakuin apa aja ke gue kalau gue salah langkah.

"Lakuin, anjing. Sekarang," sentak Bara.

Gue mulai majuin muka gue ke arah selangkangan Darren. Bau parfumnya kecampur sama bau keringatnya yang mulai banjir. Darren makin histeris pas ngerasa napas gue di sana. “MMMPH! MMM-MPH!” Badannya ngegenjot kursi, tapi gue tetep maju, nyari kepala ritsletingnya cuma pake bibir dan gigi gue.


Episode 7: BJ di Bawah Perintah


Kegelapan ini bikin indra penciuman dan peraba gue jadi tajam banget. Gue bisa ngerasa hawa panas yang keluar dari selangkangan Darren. Dia gemetar hebat, kursinya bunyi derit... derit... pas dia nyoba ngejauh, tapi tangan Master Bara yang besar nahan bahu Darren biar tetep di posisi.

"Diem, Darren. Nikmatin 'servis' dari anjing gue," suara Bara kedengeran rendah, penuh kepuasan.

Gue mulai gigit kepala ritsleting celana kain Darren. Pelan, gue tarik ke bawah. Suara ZREEET ritsleting itu kedengeran nyaring banget di kuping gue yang sekarang super sensitif. Darren ngerang panjang, “Mmmphhh...!” Suaranya pecah, antara kaget sama sensasi dingin yang tiba-tiba nyentuh kulitnya.

Gue gunain bibir gue buat nyisihin kain celana dalam kemejanya. Dan di situ, gue nemuin dia. Darren bener-bener tegang. Gue bisa ngerasa denyut nadi di situ lewat ujung lidah gue. Ini gila. Gue yang biasanya megang kendali atas tubuh ini, sekarang harus ngelakuin ini sebagai tugas dari orang lain.

"Jilat, Dio. Jangan kasih dia napas," perintah Bara sambil narik rantai di leher gue, maksa muka gue makin nempel ke situ.

Gue mulai work on him. Gue gunain lidah gue buat ngerasain setiap inci kulitnya. Darren ngerang makin keras, badannya melengkung, kepalanya dongak ke belakang. Gue bisa ngerasa otot pahanya ngeras banget di samping pipi gue. Dia pasti ngerasa konflik batin yang luar biasa: dia benci situasinya, tapi badannya bereaksi jujur sama sentuhan gue.

Gue denger suara Master Bara jalan muterin kita. "Gimana, Darren? Rasanya beda kan kalau Master lo yang jilat sambil pake collar?"

Bara ketawa sinis. Tiba-tiba, gue ngerasa tangan Bara megang rambut gue, dia ngebantu gerakin kepala gue maju-mundur, nentuin ritmenya sendiri. Gue cuma bisa pasrah, ngikutin tempo yang Bara mau. Gue edging Darren—gue bikin dia sampe di titik puncak, terus gue berhenti tiba-tiba pas Bara narik rantai gue menjauh.

"Eits, jangan dulu," bisik Bara ke Darren. Gue bisa denger Darren megap-megap di balik lakbarnya, frustrasi total karena pelepasannya ditarik paksa.

Darren nyoba ngeraih gue pake kakinya, nyoba minta lebih. Dia bener-bener desperate. Dia kehilangan logikanya sebagai dosen berprestasi; sekarang dia cuma laki-laki yang haus sentuhan dari orang yang dia pikir masih jadi Masternya.

"Lo pengen banget ya, Darren? Pengen liat siapa yang lagi 'kerja' di bawah sana?" tanya Bara dengan nada ngeledek.

Gue ngerasa firasat buruk. Sesuatu yang nggak ada di perjanjian awal gue sama Bara.

"Dio, berhenti," perintah Bara mendadak.

Gue langsung lepasin Darren dan balik ke posisi merangkak di lantai. Napas gue buru-buru. Mulut gue masih kerasa sisa-sisa aroma tubuh Darren.

"Sekarang saatnya buat sedikit 'kejutan' akademis buat kalian berdua," suara Bara terdengar makin deket ke arah kepala Darren. "Gue rasa Darren perlu liat kenyataan yang sebenernya."

Gue denger suara kain yang ditarik kasar. SRAK!

Itu suara penutup mata Darren yang dibuka.


Episode 8: Tirai Terbuka


Begitu kain velvet itu ditarik paksa dari mata Darren, cahaya lampu apartemen yang remang-remang pasti kerasa kayak kilat yang nyambar retina dia. Gue masih dalam keadaan buta—penutup mata gue sendiri belum dilepas sama Master Bara—tapi gue bisa ngerasain perubahan atmosfer di ruangan ini. Hening. Benar-benar hening yang mencekam.

"Liat, Darren. Fokusin mata lo," suara Bara terdengar sangat puas, seolah dia baru aja memenangkan taruhan besar.

Gue denger suara napas Darren yang tadinya memburu, tiba-tiba tertahan. Dia kaku total. Gue bisa ngerasa lutut gue gemetar di atas lantai marmer. Gue tahu apa yang dia liat sekarang: Masternya, orang yang biasanya dia sembah di apartemen privat, sekarang lagi merangkak di bawah kakinya sendiri dalam posisi dogslave. Gue yang cuma pake celana dalam, leher gue terikat collar kulit hitam dengan rantai yang ujungnya dipegang sama Master Bara.

"Gimana, Pak Dosen? Pemandangan yang bagus buat bahan jurnal lo, kan?" Bara ngeledek, suaranya makin deket ke telinga Darren.

“Mmmph... MMM-MPH!” Suara Darren kali ini beda. Bukan lagi erangan nikmat atau takut, tapi erangan syok yang luar biasa. Dia nyoba ngenjot badannya di kursi, matanya pasti melotot natap punggung gue yang polos dan leher gue yang dirantai. Gue bisa ngerasa kehancuran mental dia lewat getaran kursi yang nyentuh bahu gue.

"Lo pikir Dio itu 'Tuhan' buat lo? Liat dia sekarang," Bara narik rantai leher gue kasar, KLING! Gue terpaksa ndongak, meskipun mata gue masih tertutup kain hitam. "Dia cuma anjing kecil yang gue pelihara buat nemenin mainan gue yang lain. Dan malam ini, mainan itu adalah lo, Darren."

Bara jalan mendekat, terus dia nendang paha gue pelan. "Dio, buka penutup mata lo sendiri. Gue mau lo liat gimana hancurnya muka budak kesayangan lo ini pas dia tau siapa lo sebenernya."

Tangan gue gemetar pas gue narik ikatan kain di belakang kepala gue. Begitu kain itu jatuh, cahaya lampu langsung nusuk mata gue. Gue ngerjap-ngerjap sebentar, dan pas pandangan gue fokus... jantung gue serasa berhenti.

Darren lagi natap gue. Matanya merah, air mata sedikit menggenang di sudut matanya karena tekanan mental yang gila. Lakban hitam di mulutnya bikin ekspresi syoknya makin dramatis. Dia ngeliat collar di leher gue, terus dia ngeliat Bara yang lagi megang rantai gue dengan santai.

"Halo, Darren," bisik gue parau. Gue nggak berani natap matanya lama-lama. Rasa malu gue sebagai Master bener-bener dikuliti habis. Gue ngerasa telanjang, bukan cuma fisik, tapi harga diri gue sebagai dominan di depan dia udah jadi debu.

"Liat dia, Dio! Jangan nunduk!" bentak Bara. Dia narik rantai gue lagi sampai leher gue ketarik ke belakang. "Liat betapa hinanya kalian berdua sekarang. Master yang jadi anjing, dan Dosen yang jadi properti pajangan."

Darren ngerang lagi, kepalanya geleng-geleng. Dia nggak mau percaya sama apa yang dia liat. Dunianya tentang "Master Dio" yang perkasa runtuh seketika.

"Sekarang, karena kalian berdua udah saling liat posisi masing-masing..." Bara ngambil sebuah cambuk kecil dari meja di sampingnya. "Kita masuk ke tahap kepemilikan total. Total Possession Effort."


Episode 9: TPE (Total Possession Effort)


Cahaya di ruangan itu mendadak kerasa makin panas. Gue berlutut di lantai marmer, napas gue menderu, dan mata gue masih pedih pasca penutup mata dibuka. Tapi yang paling sakit adalah tatapan Darren. Gue bisa liat kehancuran total di matanya—rasa dikhianati, syok, dan hina yang bercampur jadi satu. Dia ngeliat gue, "Masternya", lagi pake collar kulit hitam yang rantainya digenggam erat sama Bara.

"Liat baik-baik, Darren," suara Bara berat dan berwibawa, bergema di setiap sudut ruangan. "Ini 'Tuhan' lo? Ini orang yang lo sembah di apartemen? Dia cuma anjing kecil yang gue pinjemin buat main sama lo."

Bara narik rantai leher gue kasar sampai gue keseret mendekat ke kursi Darren. KLING! Suara logam itu bikin Darren jengat. Dia nyoba ngeronta, tapi ikatan tali di tangan dan kakinya bener-bener ngunci dia mati. “MMMPH! MMM-MPH!” Darren geleng-geleng kepala, air matanya mulai jatuh ngebashin lakban hitam di mulutnya. Dia nggak mau nerima kenyataan ini.

"Dio, tunjukin ke dia... siapa pemilik lo sebenernya," perintah Bara.

Gue nelan ludah. Harga diri gue udah di titik nadir. Di depan budak gue sendiri, gue harus nundukin kepala sampai dahi gue nyentuh sepatu boots Master Bara. "Lo... lo pemilik gue, Master Bara," bisik gue parau.

"Kurang kenceng! Biar dosen lo ini denger!" bentak Bara sambil neken kepalanya ke pundak gue.

"MASTER BARA ADALAH PEMILIK GUE!" teriak gue, suara gue pecah.

Darren bener-bener hancur. Dia nunduk, bahunya naik turun tanda dia lagi nangis sesenggukan di balik bungkamannya. Dunianya tentang dominasi gue runtuh total. Dia ngerasa dibohongin, dijebak, dan sekarang dia sadar kalau dia cuma bagian dari permainan yang jauh lebih besar dan gelap.

Bara jalan muterin kursi Darren, tangannya megang cambuk kecil (flogger) kulit. Dia mulai nepuk-nepuk pundak Darren pake ujung cambuk itu. "Sekarang, karena lo udah tau hirarkinya... lo berdua resmi jadi milik gue. Total Possession. Nggak ada rahasia, nggak ada privasi. Cuma ada kepatuhan."

Bara narik rantai gue lagi, maksa gue berdiri dalam posisi merangkak di depan Darren yang masih terbuka celananya. "Dio, lanjutin edging lo tadi. Tapi kali ini, gue mau lo natap mata dia terus. Jangan lepasin sedetik pun. Biar dia liat kehinaan lo pas lo melayani dia atas perintah gue."

Gue mulai maju lagi. Jarak muka gue sama selangkangan Darren cuma senti. Gue dongak, natap mata Darren yang merah dan penuh luka. Gue bisa liat refleksi diri gue sendiri di matanya: seorang budak yang lagi pake collar.

Gue mulai work on him lagi pake mulut gue. Pelan, ritmis, dan sangat intim. Tapi kali ini kerasa beda. Ini bukan soal nafsu lagi, ini soal penghancuran mental. Darren ngerang panjang, badannya melengkung, tapi matanya nggak bisa lepas dari mata gue. Dia benci ini, tapi dia nggak bisa nolak sensasi yang gue kasih.

Setiap kali Darren mau meledak, Bara narik rambut gue atau nendang kecil kursi Darren. "Belum boleh, Darren. Tahan. Rasain gimana rasanya dikontrol sama dua orang sekaligus."

Frustrasi itu makin numpuk. Darren bener-bener di ujung tanduk, tapi dia nggak dikasih izin buat lepas. Gue juga sama, gue terangsang parah liat Darren kayak gitu, tapi gue cuma 'alat' di sini.

"Kalian berdua bener-bener pemandangan yang indah," bisik Bara sambil ngelus rambut gue dan rambut Darren bergantian. "Anjing dan mainannya. Sempurna."


Episode 10: Akhir yang Tergembok


Ketegangan di ruangan itu mencapai titik didih. Napas Darren yang memburu terdengar seperti suara mesin yang rusak—patah-patah, berat, dan penuh keputusasaan. Di bawahnya, gue masih berlutut, mulut gue masih bekerja di atas kejantanannya yang sudah berkedut hebat, tapi mata gue terkunci pada matanya. Gue bisa liat kehancuran total di sana. Master yang dia puja, sekarang cuma jadi alat pemuas yang dikendalikan oleh rantai di lehernya sendiri.

"Cukup, Dio. Berhenti," perintah Bara. Suaranya datar tapi mutlak.

Gue langsung narik diri. Gue menjauh dari selangkangan Darren, menyisakan dia dalam keadaan overstimulated, frustrasi, dan di ambang pelepasan yang nggak kunjung datang. Darren ngerang panjang di balik lakbarnya, “MMMMMM-PHHH!” Badannya ngegenjot kursi, kakinya nendang-nendang udara, memohon pelepasan yang baru saja gue cabut paksa.

Bara jalan mendekat ke arah Darren. Dia nggak ngelepasin lakbarnya. Dia justru ngambil segulung duct tape baru dan nambahin lapisannya sampai Darren bener-bener nggak bisa ngeluarin suara sekecil apa pun.

"Malam ini nggak ada pelepasan buat lo, Darren. Dan nggak ada ampunan buat lo, Dio," Bara narik rantai leher gue, maksa gue buat ngerangkak ngikutin dia ke arah pojok ruangan, di mana ada sebuah tiang besi permanen.

KLIK. Bara nggembok ujung rantai collar gue ke tiang itu. Gue terkunci di lantai. Jarak gue cuma dua meter dari Darren yang masih terikat di kursi. Kita berdua bisa saling liat, tapi nggak bisa saling nyentuh. Kita berdua sama-sama tegang, sama-sama hancur, dan sama-sama di bawah kuasa satu orang.

"Gue bakal keluar sebentar. Mungkin satu jam, mungkin sampai pagi," Bara make jaket kulitnya, terus dia nyalain rokok terakhirnya. Dia natap kita berdua kayak kolektor yang lagi bangga sama pajangannya. "Dio, lo liatin budak lo itu. Liatin gimana dia tersiksa karena lo nggak mampu kasih apa yang dia mau. Dan Darren... liatin 'Master' lo yang sekarang cuma anjing penjaga di lantai gue."

Bara jalan ke arah pintu. Dia matiin lampu utama, nyisain satu lampu sorot kecil yang arahnya tepat ke kita berdua. Suasana jadi makin intim tapi mencekam.

"Jangan berisik. Gue benci anjing yang menggonggong pas ditinggal pemiliknya," kata Bara dingin sebelum nutup pintu apartemen.

BLAM! Suara pintu kegembok dari luar.

Hening. Cuma ada suara jam dinding dan napas kita berdua yang saling bersahutan. Darren natap gue dengan tatapan yang nggak bisa gue jelasin—marah, kecewa, tapi juga ada sisa-sisa gairah yang nggak terselesaikan. Gue cuma bisa nunduk, ngerasain dinginnya collar di leher gue dan beratnya rantai yang ngebelenggu gue di lantai.

Gue sadar satu hal: malam ini, hierarki kami berdua udah mati. Di blog gue besok, ceritanya bukan lagi soal gimana gue njinakin dosen gue. Tapi soal gimana kami berdua, sang Master dan sang Budak, hancur lebur di bawah kaki orang yang jauh lebih berkuasa.

"Maafin gue, Darren..." bisik gue tanpa suara, sambil natap mata dia di bawah cahaya lampu remang-remang itu.

Darren cuma bisa merem, air matanya jatuh lagi, sementara badannya masih gemetar nahan efek edging yang nggak berujung. Permainan ini baru aja dimulai, dan besok pagi, hidup kami nggak bakal pernah sama lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DI BAWAH KAWALANKU

Anjing Milik Bagas

Harga Tunduk Seorang Brian